Minggu, 23 Oktober 2011

Masih tentang sy dan kamu

Ini awal yang sulit ku rasa. Ok fine ! sy tidak akan menyalahkan keadaan ataupun waktu. Ini soal situasi yg tidak tepat. Lagi, ini bukan menyalahkan. Sy hanya belum siap dengan kondisi ini dan memaksaku harus menerimanya.
Tahun ajaran baru dimulai, sy terdaftar sebagai mahasisswi perguruan tinggi negeri, bertepatan dengan pindahnya ayah ke Jakarta. Sangat berat melaluinya, bukannya merasa bahwa ibu tak cukup untukku. Tp, entahlah mungkin karena sudah terbiasa dengan sgala bekal yang diberikan ayah untukku ketika memasuki lingkungan baru. Well, bekal itu memang ada tp tidak sesuai yang seharusnya. Sy mulai mencerna dan me-flashback beberapa bulan yang lalu sebelum berita bahwa ayah akan pindahtugaskan. Ayah, mencoba memberikan ku “sesuatu” tp sy terlalu lama memprosesnya sehingga sy sadar bahwa itulah bekal yang diberikan ayah. Bicara soal yah itu taka ada habisnya, pelukan hangatnya saat saya pulang menuntut ilmu. Sentuhan sayangnnya saat me-relaksasikn tubuhku yg tegang setelah seharian beraktifitas. Pria yang menyenangkan saat berdiskusi. Pertanyaanku taka ada yang tak terjawab, mulai dari exacta sampai sejarah. Itu yang sangat ku rindukan. Bukannnya ini tak bisa ku bicarakan dengan ibu, tp sejak awal sy sudah terdoktrin berbagi dengan ayah dan ibu. Ibu adalah bagian dari kehidupanku ketika itu menyangkut soal “hati” –everything- pacar, teman, sahabat,atau org2 yg lag PDKT. Terkadang juga tentang sekolah klo memang itu “makan hati” untukku. Klo kakakku bisa jadi gabungan dari ayah dan ibu untukku, hanya saja di adalah kakak yang memposisikan dirinya sebagai itu, bukan org tua.
Ini berat untukku, ayah jauh dariku. Hanya sesekali dengan alat bantu telpon yang memberikanku pesan darinya bahwa saya harus bisa mandiri. Di sisi lain, ibu belajar membiasakan diri memikirkan tentangku dan kedua saudaraku tanpa ayah –sangat melelahkan- . beralih ke kakak semata wayangku, sekarang lagi mmemulai untuk menyusun proposal S2, itu akan semakin menyibukkannya ditambah lagi perhatiannya kembali terbagi pada sosok pria yang mungkin itulah “calon suaminya” kelak.
Diwaktu yang bersamaan, kau ada untuk memberikan support yang memamg sedang ku cari -kubutuhkan-, memberikan ku gambaran-gambaran kehdupan. Kau sosok yang ku kenal hamper setahun walopun belum cukup 1thn. Awalnya hanya bercerita soal prasaanmu yg seperti benang kusut, sy mencoba untuk mencari ujung benag kusut itu dan meluruskannya , niatku hanya membantu.mu tak lebih. Walopun sy sadar beberapa waktu sebelum ini sy punya perasaan yg berbeda padamu, tp ku padamkan sebelum membara karena tau itu hanya sakit yang ku rasa. Perlahan perasaanku ternyata tak padam seutuhnya, diam-diam masih ada sesuatu yang membara didalamnya, sy sadar kau kembali menyalakan perasaanku itu. Ya.. rasa nyaman yang tak bisa ku tolak. Rasa nyaman yang sedang ku butuhkan, tp ditengah kegalauanmu. Diantara senangku, tersembunyi pilunya hatiku. Bersamamu rasanya tak ada yang perlu di khawatirkan. Yang mengagetkanku, ketika org disekitarku tau tentangmu –hubungan ini- respon yg ku dapat “jadi tahun depan sudah nikah?” OMG, I’m still 18 years old, ok age iits no problem, but we just beginning this story although I hope in the future you are my husband. Slalu saja ada yang janggal dar setiap perjalannan ini, ibu tiba-tiba ingin bicara sesuatu yang serius padamu katanya “bicara secara dewasa” sy tidak tau akankah rencana ibu itu sudah terlaksana atau belum, dan sy blum berani berkomentar ini padamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar