Sabtu, 13 September 2014

Lagi rindu dumdumpret




Saat ini air mtataku mnegalir sekelebatnya.. Ya di tengah malam ini. Aku merindukan mu kawan.
Kalian yang ku anggap keluarga.. Bisakah kita bercengkrama, tertawa, bahkan saling mencemooh seperti dulu?
Aku rindu kalian, kalian yang ku anggap saudara..

Ku benci pada waktu dan jarak yang harus mendewasakan kita..
Aku benci pada dunia yang memaksa kita untuk beraktifitas dnegan sejuta kesibukan bahkan untuk sekedar sapa pun kita sudah tak mampu..

Aku rindu kalian, kalian yang memanjaku seperti cara nya ibuku
Aku rindu kalian yang slalu melindungiku dari "sedikit masalah"
Aku tak menemukan orang orang gila seperti kalian di luar sana yang sebegitu sayang dan pedulinya padaku.. 
Dan hari ini..
Hari yang dlu tlah kita bayangkan bahwa begitu sulitnya nnti kita akan bertemu meski berulang kali kita merencanakannya, namun tetap saja batal dengan sejuta alasan yang terkumpul dari setiap org..

Aku rindu pada kalian, 
Yang bertindak seperti kakak ketika aku malas mengerjakan pr sekolah
Aku rindu pada kalian ynag slalu memaklumi tingkah bodoh bahkan keanehan yang ku perbuat..
Entahlah.. Aku benci merindu pada kalian seperti ini 

Akankah kita saling menyapa jika uban sudah menggerogoti kepala kita masing2??
Aku yakin kalian tertawa membaca ini, namun jauh disudut hatimu yang terdalam , kalian juga merasakn hal yang sama kan??


Minggu, 07 September 2014

Nirwana tempat diana

Apa kabar kamu??
Kamu yang dulu ku panggil sayang.. Iya kamu. Yang senyumnya slalu merekah ketika menyambut hujan. Kamu yang cerewet tapi manja. Kamu yang selalu menempelkan kertas biru berisi puisi di atas laptopku. Kamu yang selalu menikmati coklat panas berserta roti bakar di kala stress. Iya kamu yang aku maksud, yang sosoknya masih begitu lekat di otakku mungkin juga di hatiku. 

Masih bisakah aku merindukan mu diana?
Perempuan yg bernama asli adriana sheifa. Masih teringat jelas mengapa aku memanggilmu diana, padahal panggilanmu yang sebenarnya adalah riana kan.

Dosakah aku merindukanmu kini diana? Setelah janji suci yang terucap dari mulutku 2 tahun yang lalu itu bukan padamu?
Hari ini, tiba tiba saja rindu itu diam diam menyusup ke relung hatiku dengan lembutnya. Bukan pada wanita sah ku yang sedang jauh menempuh pendidikannya tp pada mu diana. Rindu itu begitu saja merayu hatiku. Masihkah kau ingat tentang ku? Tentang kita?. Kenangan-kenangan kita yang mungkin juga masih tersimpan rapi disudut hatimu yang terdalam.

Ah, sudahalah. Tak pantas aku mengingatmu setelah kisah kita ku akhiri seperti ini.


***
3 years ago 
"Bagaimana bisa kau menikam ku seperti itu diana?? Apa salahku padamu?? Sampai kau tega menghancurkan ku seperti ini??" Aku menahan bening dimataku untuk menetes.
"Maafkan aku rio. Maaf sejuta maaf. Aku terlalu sakit untuk mencintaimu" ucap perempuan dihadapnku ini dgn sendu.
"Maksud kamu apa, sakit mencintaiku? Hah? Apa diana?? Bahkan aku sudah mempersiapkan bagaimana cara ku melamarmu minggu depan!! "
"Hah? Lamar?? Minggu depan? .. Aku??"
" kenapa harus shock seperti itu, toh memang awalnya kita sepakat untuk menjalaninya dengan serius. Tp dengan cara mu seperti ini yang menduakan ku dengan entengnya.... Aku kini meragukanmu. Aku tidak bisa melanjutkan semuanya riana"
 Sesak rasanya, mendengar pengakuannya yang bercinta dengan kawan ku. Langkah ku tertatih meninggalkan dia yang masih terduduk di tepi pantai itu. Padahal bukan minggu depan aku ingin melamarnya. Aku berbalik badan menghadap pantai lagi, lalu ku buang cincin yang tadi tersimpan manis di saku ku.

"Riooo......" Dia datang dan memelukku dengan eratnya. Aku tak kuasa melerai pelukannya, energi ku serasa lenyap terserap oleh sakitnya hati.
"Maafkan aku riana, kita harus putus. Mungkin memang takdir tdk mempersatukan kita"
"Ah.. Kamu jahat rio, kamu egois. Aku bukan bermaksud menduakan mu sayang " ia mencoba berbicara panjang yang diiringi isak tangis. Ragaku terkurai lemas mendengar pengakuan jahat itu. Membiarkan dia mengeluarkan isi hatinya agar tak ada lagi yang harus dia jelaskan padaku di suatu hari nanti.
"Baiklah, utarakanlah apa yang kau rasakan meski mungkin kau sudah tau aku tak akan merubah keputusanku lagi"
"Kamu terlalu egoiss rio... Egois!! Samapai segitunya kah kamu menghukum ku rio, pdahal selama ini aku begitu terluka dengan sikapmu. Melihatmu jalan dengan perempuan lain yang kau sebut teman, adik, sahabat atau apalh itu dengan mesra. Mendengarkan celotehanmu tentang perempuan dihadapanmu yg kau lihat bersamaku. Dan juga mendengarkan cerita cerita tentang mama mu yang masih saja ingin menjodohkanmu dengan anak teman temannya.. "
" kamu pikir itu tidak menyakitkan? Hah..?? Jawab aku rioo jangan tertunduk seperti itu, jawaaaab !!"
 Iya mengguncangkan tubuhku, aku tak begitu menyimak semua kalimat kalimatnya
"Jawab aku rio..."

"Iya riana, maafkan aku . Ku pikir kamu tau semuanya dan bisa memaklumi itu. Aku pikir kamu baik baik saja, toh sampai sebelum kamu mengakui kesalahanmu aku masih meyakinimu untuk ku nikahi bukan perempuan perempuan yg tadi kau maksud yang kau cemburui. Bukan riana, aku sempat memilihmu. Tapi sejahat apapun aku dimata mu, kau lebih jahat dri ku riana"
"Bukan aku rioo, tapi kauu.. Kau yang jahat karna ,menjadikan ku bersikap seperti ini.."
"Entahlah riana, sudahlah aku tidak ingin melihatmu lagi. Maaf riana, ku akui memang aku dkat dengan banyak perempuan tapi aku tak sejahat kau yang bercinta dengan yg lain. Aku masih tetap berpikir ribuan kali untuk menyakitimu seperti itu. Mungkin kisah kita tamat disini"
Kali ini aku betul betul pergi dari hadapannya, meninggalkannya begitu saja. Meski ada khawatir yang mencoba merayu untuk mengasihaninya. Tapi aku melawan ke khawatiran itu. Riana tidak akan bertindak veroboh utnuk bunuh diri. Aku berjanji pada diriku sendiri, dibawah bintang drupadi yang sempat ku saksikan tadi bersamanya bahwa aku tidak ingin tau lagi tentangnya. Tak ada lagi diana, tak ada lagi cinta yg terjaga dari kesetiaannya untuk diana. Diana telah mati terkubur oleh sakit hatiku. Mungkin sosok yang ada hanya riana saja, bukan Diana lagi.

"Toloooong... Tooloooong... " 
Sayup sayup ku dengar suara org meminta tolong, bukan tak ada empati untuk membantu tapi saat ini aku juga butuh pertolongan. Hatiku sedang skarat.
Ku tnggalkan tempat itu sesegara mungkin aku tak ingin tau lagi tentangnya. Tentang ini dan tentang yang lalu. 
Pikiranku melayang, mencoba memikirkan kata kata yang diucapkan diana. Ah bukan. Dia bukan diana tapi riana.. 
"Akkkkkhhhhhhh.... Diaaanaaaaa sudah maaatiii. Tak ada diana lagi !!!"
Aku teriak sekencang kencangnya di dalam mobil yg ku rem mendadak. Pikiranku kacau hatiku kacau semuanya kacau.
Kali ini tak ku tahan lagi air mataku. Ah, betapa curangnya dunia ini yang memaklumi wanita menangis tapi tidak bagi kami lelaki. Yang harus bersembunyi dulu jika air mata terlarang ini ingin keluar dari tempatnya bersemayam. Aku menyayangimu diana!!

***
"tok tok tok... Rio... Rio.... Bangun ri, ini sudah jam 7 . Bangun nak!! " mama membangunkan ku dari balik pintu kamar. 
Kejadian semalam seperti mimpi. Memimpikan diana ku yang tlah hilang betul betul tlah mati. Ya Tuhan, sakit macam apa ini. Mengapa begitu pedih Tuhan? Apa dosaku, sampai Engkau memberiku sakit tiada tara melalui diana yg tlah mati. Aku membenci nya. 
Matahari pun seakan ikut merasakan kesakitanku, ia bersembunyi dibalik awan hitam. Menciptakan mendung yang memanggil hujan.
Ah, hujan!! Ada bayangan diana disetiap rintiknya Tuhaann.
Perasaan kecewa itu masih menyakiti ku, menyerap semangat hidup dan melenyapkan rasa bahagia. Dan kamu Feri, kupikir kita sahabat. Sahabat macam apa kau?? Ha?? 
Hfffttt.. Feri dan riana sama sama penjahat, tak layak mereka ku kasihi.

"Eh, ri.. Bisa kamu ikut aku ?"
" untuk apa kamu ke sini fer, sudahalah aku akui kamu sudah menang aku tak sanggup harus memukul mu. Tolong keluar dari kamarku , aku tidak ingin melihatmu !! Keluaaarr !! "
Di tengah lamunan ku feri menyosor masuk ke kamarku, pengkhianat itu. Untuk apa lagi, tak ada yang perlu dia jelaskan. 
" maafkan aku rio, aku tidak bermaksud untuk melukaimu.. Tok tok tok.. Rio.. Tolonglah, kita sudah saling mengenal sejak lama bahkan sebelum kamu mengenal riana. Ayolah rio.. Maafkan aku "
Terdengar suara memelas yang serak serak basah khas feri di balik pintu kamarku
"Pergilah fer.. Aku tidak ingin melihatmu, prgi saja bersma riana mu itu. Aku sudah tidak mengenalnya"
" ya Tuhan ri, maafkan aku.. Maaf ri"
Kali ini suaranya terdengar putus asa.. Namun aku hanya menduga duga.. Hmm..Hampir stengah jam berlalu,tak ada lagi suara feri yang memelas.

"Tok tok tok Rio..  "
" ada apa lagi fer, sudahlah. Kupikir kamu sudah pergi. Anggap saja kita tidak pernah saling kenal. Kita bukan sahabat lagi, tapi 2 orang asing yang sering bertemu tapi tak saling kenal. Cukuupp!!"
"Baiklah, rio klau itu mau mu. Tapi untuk yang terakhir kalinya aku memohon padamu, ikutlah dulu denganku sebelum kamu menyesal seumur hidup"

"Heii rioo... Ada apa ini.. Kalian ini bukan anak kecil lagi yang harus bertengkar sperti ini" kali ini mama hadir mncoba menjadi penengah
"Keluarlah nak, kamu sudah dewasa.. Apapun yang terjadi diantara kalian , harus dibicarakan dengan baik. Keluar rio, sebelum papa turun tangan untuk membongkar pintu kamarmu !!"
Nada bicara mama tak lagi terdengar santai melainkan menjadi lebih tinggi. Baiklah, ini karena ku tnjukkan bakti ku pada mama, bukan padamu fer.

"Klek.." Dengan sangat terpaksa aku membuka pintu kamar.
"Kamu mau bawa aku kemana.. ?? " tanyaku pada feri tak bersemangat, aku tak ingin beradu kekuatan dihdapan wanita yang melahirkan ku ini
"Bicaraknlah masalah kalian baik baik, jangan dengan emosi." Ucap mama kemudian berlalu meninggalkanku dan feri.

"Kamu ikut saja dulu, aku tidak bisa membicaraknnya disini. Setelah ini terserah kamu mau bersikap bagaimana padaku" 
Aku pasrah saja mengikuti langkah feri, kekecewaan masih membara dihatiku namun itu terkalahkan dengan rasa penasaran yang diberi feri. Kejutan apalagi yang akan dia berikan padaku.
 
Diaa tlah pergi.. Pilukan hati..
Dia tlah pergi tak lagi disisi .. Dia tlah ke nirwana..
 lagu karangan Naff bersenandung merdu dibalik speaker mobil. Lagu ini cukup menghibur kesunyian yang tercipta diantara aku dan feri. . Pikiran ku ksong, memandang keluar dibalik gerimis yang menyatu dengan kekecewaan hati.

Terlarut aku... Dalam kesendirian, 
Saat aku menyadari tiada lagi .. Dirimu kini..
Sampai kapan kah, aku mampu bertahan...
 Kali ini giliran samsons menyanyikan lagu yang senada dengan hati. Aggrrrhh fer.. Tolonglah yakinkan aku ini semua hanya mimpiku semalam kan?

"Kita turun disini.. " 
Feri menghentikan lamunanku, bersamaan saat ia mematikan mesin mobilnya. Aku memandang di sekeliling melalui kaca jendela.. Jalan ini.. Sepertinya aku tau.. Kulihat ada banyak kendaraan yang terparkir rapi di depan mobil feri.. Ada begitu banyak orang. Aku mencoba mengumpulkan ingatanku, mngembalikan sebagian ruh ku yang tertinggal di alam bawah sadar sejak semalam. Dan akhirnya.. Aku tau
" untuk apa kita ke sini feri.. Tidak ada lagi yang kalian berdua perlu jelaskan. Aku maafkan kalian, tapi tidak untuk menjalin hubungan lagi.."
"Aakkhh sudahlah.. Ikut aku" dengan kasar feri menarik lengan ku berjalan diantara orang banyak, oke baiklah dan lagi kamu menang fer. Aku bukan pencari keributan, orang orang disini cukup mengenalku. Taku takkan mungkin menghajarmu dihadapan mereka, bahkan tetangga tetangga riana pun mengenalku, tidak mungkin aku mau buat keributan disini. Pikiranku cukup sibuk pada sikap feri, disi lain aku melihat tatapan kasihan org yang melihatku
"Lihat itu rio.." Feri melepaskan tangannya dari lenganku.
Aku trpaku, ku rasakan tubhku kembali dingin. Kali ini Air mataku tak segan untuk mengalir, emosiku yang sempat membara kini teredam dihadapan mayat diana. Yaa, dianaku betul betul tlah mati.

"Ini dia ri, diana ataupun riana sudah tidak ada lagi di dunia. Cinta telah membunuh perasaannya  sekaligus hidupnya.aku tau kalian bertemu semalam, dan dia mengakui semuanya. Sebelum menemui mu dia memberi tahuku bahwa kalian akan bertemu,dan menurut riana mungkin itu momen yang pas untuk mengakui kesalahannya tapi entahlah sehebat apa pertengkaran kalian Semalam hingga dia menenggelamkan diri di laut, ketika orang orang sekitar membawanya ke tepi pantai, jantungnya masih berdetak. Tapi ternyata di tengah perjalanan menuju rumah sakit, nyawanya tak tertolong lagi. Dokter menemukan bekas benturan di kepalanya, diduga kepala riana terbentur di batu karang yang ada di tengah laut tempat dia tenggelam. Aku mencoba menghubungimu semalam tapi nomor mu tidak aktif." samar samar aku mendengar kronologis kematian riana. . Sesak kembali memenuhi rongga dadaku

"Bbukkkk.. Ini semuaaa karna kaaamuu feri.. Bbuk bbukk" tanpa pikir pnjang beberpa pukulan melayang di wajah feri
"Heiii... Keluaaar kalian berdua, kami sedang berduka dan kalian bertengkar di hadapan mediang kak riana. Keluaaarrr, !! " adiik riana mengusir aku dan feri. 
Feri yang tadi jadi sasaran pukulan ku langsung mengambil langkah, tapi tidak untuk melwanku. Aku menyusulnya. Semua mata tertuju pada kami berdua yang berjalan menuju mobil feri.
" iya rio.. Maafkan aku. Pukul saja aku sepuasmu. Ini memang salahku..." Ucap feri disambut hujan yang turun dengan derasnya. Aku melihat air matanya menyatu bersama hujan yang mengalir di wajah pria ini. Tapi tak kuhiraukan ucapannya. Aku melangkah menjauh dari para pelayat. Taku kuasa diriku memandang riana terbujur kaku, dan wajah ayunya yang sudah terlihat pucat pasi tak lagi dialiri darah. 

Membiarkan duka ku terbawa angin dan tersapu hujan. Maafkan aku riana, maafkan. 
Langkahku terhenti di sini, di tempat ini. Di tempatku ingin melamarnya, dan sekaligus tempat semua ya berakhir. Tenanglah di atas sana riana. Maafkan aku. Walaupun ku tau ribuan maafku takkan mengembalikan mu ke dunia ini.
Di tepi pantai ini,terlihat derasnya ombak dan hujan yang tiada memberikan tanda untuk berhenti turun dari balik peraduannya. Aku mengenangmu diana,selamat jalan kasih !!

Menabur.. Bunga.. Menetes air dimata..
Perihh trbalut sepi..
Aku berseddih..
Diaa tlah pergi.. Tak lagi kembali.. 
Dia tlah prgi.. Pilukan hati...
Dia tlah pergi 
Tak lagi disisi.
. Dia tlah pergi... Ke.. Nirwanaa...



Sabtu, 30 Agustus 2014

ASI untuk Revan

Terlalu banyak inginku.. Harapanku juga mimpiku..
Meski kadang surut untuk mencapai tujuan tujuanku, aku masih tetap berusaha. Terkadang terpikirkan olehku apa yang diucapkan oleh ayah "kita manusia punya batas kemampuan nak. Jangan terlalu memaksakn diri yg sebenarnya kita tak mampu" .
Dan selalu ku sanggah dengan kalimat Aku mampu ayah, aku bisa.!!
Namun di sela sela sepi, aku memikirkan kata-kata ayah. "Apa iya, aku mundur saja??"
Nasihat yg lain dari ayah pun masih bergeming di kepalaku.. Maukah kau tau apa itu?

"Memaksakn diri di luar kemampuan kita itu namanya menyiksa diri, nak. Tuhan memudahkan semua kehidupanmu. Tapi kenapa kamu justru mempersulitnya?"
Dan lagi, kalimat itu kadang meruntuhkn semangat "aku bisa" yang ku ucapkan pada ayah. Selalu saja timbul pro-kontra disetiap keputusan yg ku ambil untuk hidupku..
Tapi, bersama mu ayahku tak berkomentar banyak atau bahkan untuk bersikap kontra terhadapkupun tidak.
Dan 1 hal yang masih kuperjuangkn kini di tengah goyahnya hatiku akan saran saran orangtua ku yaitu, asi eksklusif utk revan tanpa bantuan sufor :) meski ku tau asiku tak begitu banyak untuk diperah. Setidaknya konsumsi revan tiap harinya itu cukup. Meski tak ada tabungan asi untuk smpai seminggu paling tidak persiapan asi untuk revan sehari itu cukup. Dan demi revan , aku rela cuti kuliah disemester ini. Untuk revan yang harus tetap mengkonsumsi asi.
Kuyakini melalui ASI lah kujalin kedekatanku dengan revan. Aku mencintaimu nak, cinta yang tak bisa digambarkan oleh apapun.. Yang masih bisa lebih jika menyelimuti bumi tempatmu berpijak nak.


Kamis, 21 Maret 2013

izinkan aku menangisi mu


Kita tinggal menghitung hari yang berganti bulan untuk bersama, tak ada yang bisa ku sesali selain tetap mencintaimu. Tak ada yang bisa ku lakukan selain tetap terus melanjutkan persiapan menuju hari yang orang sebut hari bahagia kita…
Akhir-akhir ini saya sering mendapat ucapan selamat, dan orangorang yang mengajak untuk bersalaman.. menurut mereka itu adala sesuat hal bahagia.. sedangkan menurutku.. “mungkin awal kebahagiaan yang nyata” ..  mungkin kamu tau, sy orang yang begitu pemalu mengahadpi orang-orang.. berbicara hanya sesekali saja, atau terkadang ketika orang-orang membutuhkan jawaban atas pertanyaan yang mereka lontarkan untukku. . sy hanya mempu tersenyum… bingun.. kata apa yang harus ku ucapkan..
Ketka seseorang bertanya padaku, “udah siap beruamh tangga kah , ul??” saya hanya tersenyum dan menjawab insya allah.. tapi ternyata setiap pertanyaan itu mempunyai lanjutan  pertanyaan seperti ini “sudah.. sholat istikharah??” ya … pertanyaan yang cukup membuat hati saya terenyuk setiap kali mendengarnya.. “tentu saja sudah.. jauh har sebelum kamu mengambil keputusan yg berani itu..
Bahkan, di setiap sujudku saya slalu menyebut namamu stetlah nama kedua orangtua ku.. dan meminta petunjuka pada Sang Khalik
yaa Allahh.. jika Muhammad zulfikar bukanlah jodoh yang kau pilihkan untukku… jika ia tidak baik untukku dan agamaku.. jauhkanlah ia dariku Ya Allah, ampunilah segala khilafku bersamanya.. jangan kau biarkan kami terlalu larut dalam api syaitan yang terkutuk… aamiinnn”
Semakin saya ingin menjauhi mu, semakin nyata Allah member petunjuk untuk mendekatkanku padamu.. kaukah jodoh itu???
Insya Allah kaulah pilihan Allah untukku. Meski dirimu tak searif Abu Bakar assiddiq, tak sebebrani Umar bin Khattab, tak setampan Ali bin abi Thalin dan juga dirimu tak sekaya Usman bin Affan… kamu hanyala lelaki akhir zaman yang harus ku sdari bahwa kelak kau tak sehebat yang diharapkan.. namun akan membimbingku kepada jalan Allah ,senantiasa berikhtiar dan memberi safa’at.
Kamu adalah lelaki ahir zaman yang mempunyai segudang cerita masa lalu.. masa lalu yang cukup membuatmu tersipu malu kala mengingatnya, namun menggores hatiku.. masa lalu yang menjadi pelajaranmu kini, masa lalu yang indah namun menyakitiku,…
Kamu adalah pilihan Allah untukku, yang sempat singgah di hati beberapa perempuan lain.. miris.. menyayat jiwa.. sebagaimana kamu pernah bahagia bersama mereka, mungkin tak sebahagia bersamaku.. lagi dan lagi saya harus sadar.. kamu bukan milikku.. kamu adalah Milik Allah, yang akan dititipkan padaku untuk ku jaga..di untuk ku hormati sebagai suami kelak.
Tak bisa dipungkiri,bahwa akupun tidaklah semulia khadija, setaqwa aisyah , setabah halimah serta tak secantik zulaikha,, aku hanyalah perempuan akhir zaman.. yang mencoba menjadi sandaranmu dikala senang, penyejuk dikala susah.. dan juga mencoba menjadi air dikala engkau berkbar menjadi api.
Aku hanyalah perempuan akhir zaman.. manusia biasa.. yang begitu mudah tergores hatinya.. yang jiwanya terlalu rapuh.. bahkan diriku pun tecipta dari tulang rusukmu yang paling bengkok. Yang jika kau paksakan untuk lurus.. maka diriku pun akan patah..
Aku tlah belajar menjadi pendengar yang baik untukmu, yang menedngarkan setiap kisah lalmu bersama orang lain sebelumku.. meski kadang harus ku palingkan wajahku agar air mataku tak perlu menetes..
Aku tlah belajar menjadi kawanmu, yang mendukung sgala kegiatan positifmu, yang membesarkan hatimu di kala sedih menghampiri… yang menyemangati di kala hatimu tak bersemangat ..meski kadang aku yang membutuhkan hal itu
Aku tlah belajar memaklumi setiap kebahagiaan lalumu bersama orang lain.. meski itu terlalu sakit dan terlalu pahit…
 Aku pun tlah menjadi adikmu, yang kau sebagi kakak menuntun ku.. mengajariku mana yang baik dan tidak pada sesuatu yang mungkin tak sampai pada pikirku..
Kamu pernah bahagia bersama orang lain, saling berbagi duka dan suka.. saling memberikan hadiah, saling memberikan sandaran satu sama lain. Saling member apa yang masing-masing dari kalian butuhkan.. aku tlah menjadi pengamat masa lalu mu, yang sring kali kau ceritakan padaku.. yang harus kumaklumi dengan sayatan-sayatan luka setiap masanya.. maafkan aku jika tak mampu ku berikan kebahagiaan yang lebih, maafkan aku jika aku tak mampu menajdi yang terbaik.. maafkan aku yang hanya mampu mencintaimu dengan tulus, yang hanya mampu menjadi tempatmu berbagi.. Insya Allah, aku Mencintamu karenaNya.